Kritik
1?
Apa
maksud judul mu itu, dee?
Hmm,
kenapa aku pake’ judul itu?
Akhir-akhir
ini banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan fenomena (wiih, bahasanya . . fenomena. Baca aja
kenyataan yang ada, hehe) disekitarku, baik apa yang aku alami maupun apa
yang aku terima dari cerita orang atau dari sekadar mengamati apa yang ada.
Lalu kembali lagi kenapa kritik? Karena aku harap apa yang aku tulis bisa jadi
kritik atau pembelajaran untuk diriku sendiri (yah, alasan ku menulis adalah untuk konsumsi ku sendiri, untuk
kepuasan, kebaikan, dan kemajuan ku sendiri, kalo memang ada manfaat untuk
pembaca, syukurlah, tapi bukan itu fokus utama ku atas semua tulisan ku, cukup
tau saja sih, hehe), dari apa yang aku terima secara langsung maupun apa
yang aku dengar dari orang lain, juga dari mengamati apa yang ada. Yup, that’s why, aku pake judul kritik.
Lalu kenapa setelah kata kritik harus ada angka 1? Yah, sekali lagi karena
tulisan ini berasal dari apa yang aku alami dari kehidupan ku sehari-hari,
jadi, aku yakin akan ada cerita kedua ketiga dan seterusnya. Itulah alasan
sederhana ku. Now, back to the point.
Nah,
untuk menyederhanakan semua tulisan ku tentang “kritik” ini, aku akan selalu
menyederhanakan cerita-cerita itu dengan cara pandang orang pertama. Yap, aku akan selalu berposisi jadi
orang yang serba tau. Haha. Let’s
beginning . .
KRITIK
1
“kamu itu memang tipe cewek yang nggak
pedulian sama orang lain, kamu cuma peduli sama orang yang kamu sayang”
Awalnya aku
kaget ketika ada orang yang menyampaikan hal itu. Memangnya salah? Benar bukan?
Aku hanya peduli sama orang yang aku sayang. Jelas, karena dengan kehadiran
orang-orang yang aku sayang (tergantung
cara pembaca mengartikan, aku mengartikan sebagai orang yang kamu sayang adalah
ortu, keluarga, terkasih, sahabat, teman, dsb) itulah aku bisa bertahan
sampai detik ini. Orang-orang yang aku sayang lah alasan aku untuk hidup, untuk
meraih semua mimpi, untuk menjadi lebih baik, untuk bisa membahagiakan mereka
yang aku sayang, untuk menjadi lebih baik, serta untuk semua hal positif yang
tidak bisa aku sebutkan lebih banyak lagi
Yah, tapi kan kamu tetep nggak pedulian
sama orang lain?
Bukan
nggak pedulian tepatnya, tapi tidak
perlu membuang-buang waktu untuk hal yang tak mendukung kemajuan diri. Bukan
juga berarti nggak mendengarkan atau nggak menganggap kehadiran orang lain
‘yang tidak penting’ itu, bukan demikian. Hanya saja, ambil postifnya saja.
Andai mereka berkata buruk, yah sudah dengarkan saja, tapi tidak lantas membuat
jalan kita terhenti. Cukup didengar, kalo memang ada baiknya untuk kemajuan
kita, yah ambil positifnya dan berubahlah dengan ‘ocehan’ mereka yang mungkin nggak ngenakin. Simple, bukan? Yah, ibarat kata pepatah, “anjing menggonggong,
kafilah tetap berlalu”. Begitulah cara pandang ku. Kalau dianggap tidak peduli
dengan orang lain, mungkin cara pandang aku dan ‘kritikus’ itu berbeda. Setiap
orang punya caranya sendiri untuk memandang dan menilai sesuatu, bukan?
Hal
ini senada dengan kutipan yang aku tulis sendiri di sosmed facebook ku,
“Apapun
pendapat orang, bagaimana pun penilaian orang, tidak akan sedikitpun mematahkan
langkah ku, tidak serta menggoyahkan perasaan ku, dan tidak pula sedikitpun
merubah pola pikir ku. Hanya saja apapun pendapat orang, bagaimanapun penilaian
orang, akan menjadi acuan untuk melangkah, berperasaan, dan berpola pikir
dengan cara yang lebih bijakasana”
Mungkin
itu cara pandang ku. Entah bagaimana “kritikus” melihatnya. Tapi terima kasih
untuk kritiknya.
Dee
(25-feb-2014; 16.04)

0 komentar:
Posting Komentar